Kamis, 03 April 2014

Memahami Limiting Belief


Apa yang melandasi perilaku manusia dan juga bagaimana manusia dapat menentukan pilihannya dapat dipengaruhi dari belief system yang dimilikinya. Belief adalah asumsi-asumsi dimiliki oleh seseorang dalam memandang diri sendiri (internal) serta dunia eksternalnya.

Proses terbentuknya belief berasal dari pengalaman yang dijumpainya dalam kehidupan, pada dasarnya ada dua pengalaman yang dapat berpotensi membentuk belief yaitu pengalaman induktif dan pengalaman empiris. Selain itu belief juga dapat terbentuk dari susunan linguistik “cause effect” baik yang diucapkan oleh orang lain maupun diri sendiri (self talk). Sayangnya tidak semua belief yang tertanam dalam pikiran manusia berdampak positif, ada suatu hal yang dikenal sebagai virus pikiran (ada juga yang menyebutnya dengan racun pikiran) yang disebut dengan limiting belief.

Limiting belief ini yang membuat seseorang mengalami kemunduran di dalam kehidupannya, dan juga sebagai penghalang untuk mencapai kesuksesan yang lebih tinggi. Limting belief terdiri dari tiga area, yaitu hopelessness, helplessness dan worthlessness.

Hopelessness adalah merasa bahwa diri sendiri tidak memiliki harapan untuk mampu melakukan/meraih sesuatu,sedangkan helplessness adalah merasa bahwa diri sendiri tidak mampu melakukan/meraih sesuatu tanpa bantuan orang lain dan worthlessness adalah merasa bahwa diri sendiri mampu melakukan namun merasa tidak layak.

Dengan membongkar limiting belief yang dimiliki oleh manusia dapat mempercepat dirinya untuk mencapai kesuksesan. Limiting belief ini dapat dibongkar dengan metode yang sangat sederhana, metode yang sederhana ini adalah dengan bertanya. Ya, dengan menggunakan pertanyaan yang tepat dapat membongkar limiting belief ini. Teknik atau metode bertanya yang dapat digunakan yaitu Meta Model. Meta Model adalah rumusan pertanyaan yang di formulasikan oleh founder NLP dari seorang psikolog terkenal Virgina Satir. Meta Model memiliki fungsi dasar untuk membantu orang lain dalam menemukan informasi yang hilang, menghubungkan dengan pengalaman internal dan merubah peta kognitif. Dalam sisi yang lebih mendalam, ternyata Meta Model dapat dimanfaatkan untuk mendekonstruksi sebuah belif (termasuk limiting belief). Semakin cepat seseorang mengenali limiting belief yang dimilikinya, maka semakin cepat pula kesuksesan yang dapat segera diraih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar